Simposium tgl 9 April 2016 di Kementerian Kesehatan

Dear ODPA / ODPA Psoriatic, Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia ( YPPI ) mengadakan acara Simposium “ Psoriasis bukan Sekedar Penyakit di Kulit” pada tanggal 9 April 2016 pukul 09.30 – 13.00 WIB di Ruang Rapat Gd. Prof. Sujudi Lt. 3, »

Gizi berimbang untuk penampilan tetap menarik


Gizi seimbang merupakan pedoman dalam mengkonsumsi makanan yang sehat, aman untuk mempertahankan gizi yang optimal (Depkes, 1996). Dalam keadaan sehat maupun sakit perlu pengetahuan mengenai gizi untuk mempertahankan gizi sebaik-baiknya ataupun untuk menunjang penyembuhan dan mengurangi kekambuhan penyakit.
Psoriasis merupakan penyakit kulit dengan proses pergantian kulit yang terlalu cepat yang kronik dan residif, dengan gambaran klinik yang bervariasi. Diagnosis klinis biasanya mudah ditegakkan dengan gambaran lesi kulit yang jelas dan diklasifikasikan sebagai eritroskuamosa yang menandakan keterlibatan pembuluh darah dan epidermis.
Meskippun penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih-lebih mengingat perjalanannya menahun dan residif (Djuanda, 1987). Penyebabnya tidak diketahui. Insiden pada kulit putih lebih tinggi daripada kulit berwarna. Faktor herediter meliputi 1/3 penderita. Dapat terjadi pada semua usia dan jenis kelamin, terbanyak pada usia 20-35 tahun. Beberapa factor sekunder yang memperberat penyakit ini adalah trauma, penyakit radang, iklim dan psikosomatik. Menjalani pola hidup sehat dan pola piker yang positif dapat meringankan gejala. Gizi merupakan salah satu terapi suportif yang dipikirkan dapat membantu dalam menangani penyakit ini.

Gizi seimbang :

Makanan merupakan kebutuhan primer yang sangat penting bagi kelangsungan hidup. Dalam ilmu Gizi, fungsi makanan dikemukakan sebagai berikut (Sediaoetama, 1985) :
1. memenuhi kepuasan jiwa
a. memberi rasa kenyang
b. memenuhi kebutuhan naluri kepuasan jiwa
c. memenuhi kebutuhan social budaya

2. Memenuhi fungsi fisiologis :
a. Memberikan tenaga (enersi)
b. Mendukung pembentukkan sel-sel baru untuk pertumbuhan badan (growth)
c. Mendukung pembentukan sel-sel atau menggantikan bagian-bagian sel yang rusak atau aus terpakai (maintenance)
d. Mengatur metabolisme zat-zat gizi dan keseimbangan cairan serta asam basa (regulatory mechanism)
e. Berfungsi dalam pertahanan tubuh

Masukan makanan dilakukan dengan proses makan, proses makan tersebut akan memberikan rasa puas atau rasa tidak puas. Makanan yang lezat, sesuai dengan budaya/kebiasaan dan mengenyangkan serta suasana yang mendukung akan memberikan kepuasan. Makanan tersebut diharapkan dapat memenuhi ke 5 fungsi fisiologis agar dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya bagi tubuh. Pengertian makanan yang sehat perlu diresapi agar dalam memenuhi kepuasan jiwa kita tetap mengerti rambu-rambu, karena salah dalam mengkonsumsi makanan justru menyebabkan masalah bagi tubuh kita.
Diet yang sesuai (appropriate) adalah yang adekuat dan seimbang. Dalam membicarakan masalah gizi seimbang selalu terkait istilah kuantitas dan kualitas. Kuantitas adalah seberapa banyak mengkonsumsi makanan atau berapa kalori yang diberikan, sedangkan kualitas merupkan kelengkapan zat gizi yang ada di dalamnya (protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral) yang ada dalam makanan tersebut (Mahan dan Arlin, 1992)

Kuantitas
Adalah sesuai dengan kebutuhan yang mengacu pada umur, jenis kelamin, keadaan hamil/tidak dan kegiatan (dapat dilihat dari daftar kecukupan gizi = RDA). Sedangkan komposisinya adalah 50-60% hidrat arang, 15-20% protein, dan 20-25 % lemak. Kebutuhan kalori untuk wanita 20-39 tahun bekerja sedang adalah 2000 kalori, 55 gram protein (Sediaoetama, 1985), lihat lampiran.

Kualitas
Mengacu kepada slogan lama 4 sehat 5 sempurna : dengan mengkonsumsi nasi, lauk hewani, lauk nabati, sayur, buah dan dilengkapi susu, akan mengandung zat gizi lengkap yang dibutuhkan oleh tubuh kita.

13 Pesan Dasar Gizi Seimbang

Merupakan pedoman yang disusun didalam Widyakarya Pangan dan Gizi serta dijadikan pedoman oleh Departemen Kesehatan dalam penyuluhan Gizi untuk menghadapi masalah gizi kurang dan gizi lebih (kegemukan)
Pesan tersebut adalah :
01. Makanlah aneka ragam makanan
02. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
03. Makanlah sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi (50 %)
04. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai ¼ dari kebutuhan energi (25 %)
05. Gunakan garam beryodium
06. Makanlah makanan sumber zat besi
07. Berikan ASI saja kepada bayi sampai berumur 4 bulan
08. Biasakan makan pagi
09. Minumlah air bersih dan cukup jumlahnya
10. Lakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur
11. Hindari minuman beralkohol
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
13. Bacalah label makanana yang dikemas

13 Pesan Dasar tersebut diharapkan mampu mempengaruhi setiap orang Indonesia untuk selalu mengkonsumsi hidangan tradisional yang sehat, seimbang dan aman untuk mempertahankan gizi yang optimal.
Gizi dan psoriasis

Penyakit ini tidak membahayakan jiwa, tetapi dapat mengganggu kualitas hidup. Kehidupan pribadi, social dan perkerjaan dapat dipengaruhi oleh penyakit jika lesi psoriasis mengenai tempat tertentu (misalnya muka, telapak tangan/kaki atau genitalia). Komplikasi sepserti psoriatic eritroderma atau psoriasis pustulosa generalisata dapat membahayakan jiwa penderita (Dr. Benny Wiryadi, 2003).
Beberapa keadaan lingkungan atau factor tertentu dapat memperburuk atau mencetuskan psoriasis atanra lain : stresk cuaca dingin, dan kelembaban rendah, obat, infeksi, vaksinasi, kontak iritan, hipokalsemia, alcohol dan merokok
Dalam mneilai keparahan penyakit, Health-related quality of life ditekankan penialainnya melalu pekerjaan, hubungan dengan keluarga, kehidupan social dan seksual, rekreasi, kesehatan fisik, masalah keuangan dan emosional yang sehat dan kesenangan (Dr. Cut Jacoeb, 2003)
Dalam hal ini kesehatan fisik merupakan salah satu hal penting utuk mencegah kekambuhan, dengan gizi yang baik diharapkan mendapatkan kekebalan untuk mencegah infeksi yang dapat menyebabkan perburukan penyakit.
Hubungan nutrisi dan psoriasis banyak menimbulkan berbagai spekulasi. Banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui efek pemberian nutrient pada pengobatan psoriasis dan pengaruh psoriasis pada status nutrisi. Dan makin banyak bukti bahwa pemberian nutrient (zat gizi) tertentu mungkin dapat memberiakn efek terapeutik dan realtif lebih aman (Racket, 1993 dalam Harefa, 2001).

Kalori/Energi
Tidak ada hubungan langsung antara asupan kalori dengan psoriasis. Tetapi dengan asupan kalori yang tepat memberikan energi yang sesuai dengan kebutuhan akan mencegah obesitas, atau bila sudah terjadi overweight atau obesitas perlu diberikan diet rendah kalori untuk menurunkan berat badan agar penampilan lebih menarik. Pada diet ini diusahakan agar tidak terjadi defisiensi zat-zat gizi tertentu agar kesehatan kulit tetap terjaga. Dengan diet 1500 kalori protein 60 gram ini masih didapatkan asupan zat gizi yang cukup untuk kesehatan tubuh (lihat lampiran)

Lemak
Sesuai dengan saran diet yang sehat adalah 13 pesan dasar gizi seimbang, konsumsi lemak adalah 25 % kalori. Dengan asupan lemak yang demikian (41 gram lemak) sebagai gambaran apabila dalam 1 hari kita makan makanan yang digoreng dari minyak yang dipergunakan sudah masuk 30 gram lemak, jadi untuk mendapatkan diet yang sehat adalah jangan menambah konsumsi lemak berlebihan terutama lemak jenuh (lemak daging sapi/kambing dll, mentega/butter).
Berdasarkan pengamatan epidemiologik di mana insidens psoriasis di Eskimo dan Jepang diduga karena konsumsi ikan yang tinggi dan banyak mengandung asam lemak tak jenuh ganda omega 3. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberian asam lemak omega 3 mengurangi rasa gatal, eritema dan “scaling” pada penderita psoriasis (Brittner, dkk, 1988, dan Soyland, 1993).
Ditemukan kadar asam arakidonat derivate dari asam linoleat (omega 6) yang meningkat pada plak-plak psoriatic, demikian juga hasil derivate asam tersebut yaitu 12 hydroxytetraetanoic acid dan leukotriene B4, zat-zat ini merupakan zat proinflammatory yang dapat merangsang sinstesis DNA yang pada kultur jaringan keratosit manusia. Dengan memberikan asam linolenat (omega 3) dapat menghambat pembentukan asam arakidonat dengan cara inhibisi kompetitif (lihat skema) disamping itu ternyata leukotrin dan prostaglandin yang dibentuk dari asam linolenat-asam eikosapentanota (EPA) secara biologis kurang aktif dibanding yang dibentuk dari asam linoleat-asam arakidonat (Brittner, dkk 1988, dan Mayser, dkk 1998).

Protein
Merupakan zat gizi yang sangat penting, dalam diet mencakup 15-20 % dari asupan kalori, kecukupan protein sangat diperlukan untuk memenuhi fungsi protein sebagai pembentuk jaringan baru menggantikan jaringan yang rusak dan membentuk kekebalan tubuh. Dengan ini tubuh terhindar dari penyakit radang, yang dapat memicu kekambuhan penyakit ini.

Vitamin dan mineral
Zat pengatur dan antioksidan
Zat-zat gizi ini terutama diperoleh dari sayuran buah-buahan, walaupun juga terdapat pada bahan makanan yang lain. Vitamin merupakan zat yang esensial bagi tubuh yang mengatur reaksi –reaksi biokimiawi dalam tubuh serta sebagai antioksidan terutama vitamin A, vitamin C dan vitamin E serta beberapa mineral utama Seng (zn) dan selenium (se).

Defisiensi
Beberapa peneliti menemukan kemungkinan adanya defisisensi zat gizi tertentu pada penyakit psoriasis, sehingga mungkin suplementasi zat-zat gizi tersebut daapt bermanfaat, (Psoriasis, )
Asam folat (Fry L, dkk, 1971)
Vitamin A (Haddox dkk, 1979)
Vitamin B12 (Carslaw RW dan Neill J, 1963; Sneddon JB, 1963; Cohen el, 1963)
Nikel (Donadini dkk, 1980)
Selenium (White A dkk 1983)
Seng (Donadini, dkk 1980)
Lesitin (Gross P dkk, 1950)
Mukopolisakarida (Pruden JF dan Balassa LL, 1974)
Omega 3 (Valquist C, dkk 1985; Ziboh VA, 1986, Brittner Sb dkk, 1988, Soyland R, 1993)

Efek anti peradangan
Seperti diketahui bahwa penyakit ini dianggap penyakit autoimun dnegan sel T memegang peran penting, dimana sel T teraktivasi berinteraksi dengan sel epidermis (terutama keratinosit) mengakibatkan diferensiasi keratinosit yang abnormal (Wiryadi, 2003). Sel T yang teraktivasi mensekresi berbagai jenis sitokin yang mampu merangsang berbagai sel didekatnya, yang kemudian akan mensekresi sitokin tambahan, menghasilkan umpan balik yang mempertahankan peradangan menahun. Sitokin tersebut dihubungkan secara khusus dnegan respon sel T terhadap jejas jaringan pada autoimun (Endardjo, 2003)
Pemberian vitamin D3 ternyata bermanfaat pada penderita psoriasis, karena menghambat pembentukkan sitokin (Interleukin 2 dan IL6) oleh limfosit, sehingga mengurangi proliferasi dan diferensiasi keratinosit. Selain itu ternyata retinoid (vitamin A) dapat mengurangi proses hiperproliferatif melalui pengaturan transkripsi gene dan juga sebagai zat anti inflamasi (Christoper dan Mrowietz, 1999)