 |
Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia didirikan pada tahun 2006 oleh beberapa orang
penderita/pasien dengan dukungan beberapa orang dokter ahli dan masyarakat yang
peduli dengan penyakit kronis ini. Tujuan dan misi dari Yayasan ini adalah untuk
mensosialisasikan Psoriasis ... Next |
 Gathering di Surabaya dg Prof. dr. Pohan SpKK |
Berita Terbaru
05/Nov/2009 World Psoriasis Day 2009
Psoriasis is a real disability that deserves attention!
"Hari Psoriasis Dunia"
“Psoriasis Penyakit kronis, butuh perhatian serius”
Hari & Tgl : Hari Minggu, 08 November 2009
Tempat : Mari-Jo, Club House, Lapangan Golf Kebayoran Baru,
Jl. Asia Afrika, Pintu 9 Senayan, Jakarta Selatan (depan Plaza Senayan)
Waktu : Pkl: 08:30 - Pkl: 14:00
Informasi: contact@psoriasisindonesia.org
20/Apr/2009 http://www.jawapos.co.id/imgall/17/imgori/64153large.jpg>
[Jawa Pos, Sabtu, 18 April 2009 ]
Mereka Melawan Penyakit
HARI masih pagi. Namun, peluh keringat sudah membasahi dahi Sardiyoko.
Pukul 05.30 kemarin, Yoko, sapaan dia, sudah berjalan kaki kira-kira 5 kilometer mengelilingi halaman Balai Kota Surabaya.
Tidak tampak kelelahan pada wajahnya yang tirus itu. Sardiyoko masih bersemangat menempuh beberapa kilometer lagi. Walau untuk menempuh perjalanan itu, pria berusia 36 tahun tersebut harus setengah menyeret kakinya. Tapi, target harus dipenuhi: pokoknya sebisa mungkin berjalan
selama sejam.
Sudah sebulan ini Sardiyoko tidak pernah absen melakukan aktivitas jalan pagi. Bapak seorang putra itu memperkirakan bahwa dirinya sudah berjalan 42 hingga 50 km. Dia menganggap aktivitas tersebut sangat berharga.
Tentu demikian. Sebab, Sardiyoko pernah merasakan tidak bisa berjalan dalam jangka lama. Kalau ditotal, dia tidak bisa berjalan selama dua tahun. ''Ketika pertama bisa berjalan, saya girang luar biasa.
Seolah-olah saya bisa mengelilingi Surabaya ini,'' ujarnya lantas tersenyum.
Dalam seharian itu, ada banyak kegiatan yang ingin direngkuh Sardiyoko.
Mantan direktur organisasi nonpemerintah, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, tersebut ingin bersua beberapa koleganya.
Dia menjadwalkan ingin bertandang ke sekretariat organisasi Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) di kawasan Sukolilo.
Bahkan, Sardiyoko berencana melakukan aktivitas spesial. Yakni, nongkrong di warung pinggir jalan sambil makan nasi pecel. Maklum, sudah bertahun-tahun pula dirinya haram menyentuh makanan tersebut. ''Pokoknya sangat banyak yang hendak saya kerjakan. Tubuh ini sepertinya tidak
mengenal kata lelah,'' ujarnya.
Sardiyoko sadar telah mengalami semacam euforia kesehatan. Sebab, lebih dari tujuh tahun dia dihantam penyakit ''mengerikan''. Namanya psoriasis arthritis. Itu sejenis radang tulang yang menyerang persendian. Bagi yang terserang penyakit itu, sendi akan mengalami peradangan hebat.
Tulang belulang sangat nyeri dan kaku hingga tidak bisa digerakkan.
Hingga hari ini pun, dunia kedokteran masih belum mampu menyembuhkan secara total penyakit tersebut. ''Jadi, ya bertahun-tahun ini saya hanya tergolek di tempat tidur. Jangankan untuk jalan, bicara saja susah. Nyeri, sakit sekali,'' jelasnya. ''Karena itu, saya betul-betul menikmati fase ini,'' lanjutnya.
Sejatinya, Sardiyoko tidak pernah mengetahui bagaimana dirinya bisa terserang psoriasis arthritis itu. Banyak dokter mengatakan penyakit tersebut diturunkan melalui faktor genetis. Tapi, jika diurut-urut dari silsilah keluarga, Sardiyoko tidak menemukan satu pun anggota keluarga yang terkena penyakit tersebut. ''Tapi, saya ingat kapan kali pertama terkena penyakit tersebut,'' ujarnya.
Waktu itu November 2002. Sardiyoko merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
Tiba-tiba di kepala muncul bercak-bercak merah. Ukurannya sekitar 1 sentimeter dan sangat banyak. Bintik tersebut dirasa sangat gatal.
Bahkan tidak lama muncul bentol-bentol merah.
Tidak lama kemudian, bentol tersebut tidak hanya memenuhi kulit kepala hingga dahi. Lebih dari itu, bentol tersebut juga merantak ke kaki, tangan, perut, dada, serta punggung. Merata. Sardiyoko berpikir itu hanya penyakit kulit biasa dan bisa ditangani dengan mudah.
Pergilah dia ke seorang dokter umum di Surabaya. Oleh sang dokter, Sardiyoko diberi salep dan injeksi untuk menghilangkan tanda-tanda merah di badannya tersebut. Awalnya berhasil. Sardiyoko yang waktu itu menjadi direktur Walhi Jatim masih tetap melakukan banyak aktivitas pembelaan lingkungan. Tapi, tidak lama kemudian, bencana besar muncul.
Dua bulan kemudian, Sardiyoko mulai merasakan nyeri yang sangat hebat di hampir semua bagian tubuhnya. Semua, tulangnya nyeri tidak terperi. Dia hampir tidak bisa melakukan aktivitas apa pun.
Untuk berjalan saja, Sardiyoko tidak lagi sanggup. Telapak kakinya tidak mampu menjejak tanah karena sakit luar biasa. Tangan pun sudah tidak bisa difungsikan. Untuk bersandar, tulang punggungnya amat sakit.
Tidur dalam posisi apa pun, dia tidak bisa melakukan. Ke kiri sakit, ke kanan sama saja. Bahkan untuk makan, tulang rahangnya tidak bisa berkompromi. Sardiyoko hanya bisa membuka mulutnya selebar 5 cm untuk makan. ''Rasanya luar biasa menyakitkan. Kira-kira seperti patah tulang, tapi di seluruh tubuh. Saya hanya bisa menangis waktu itu,'' katanya.
Karena kondisinya sangat parah, keluarga membawa pulang Sardiyoko ke kampung halaman, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Sesampai di rumah, Sardiyoko langsung dibawa ke seorang dokter umum.
Untuk mengatasi nyerinya, dokter memberikan berupa-rupa injeksi antinyeri.
Tapi, itu hanya sementara. Daya tahan obat nyeri tersebut tidak lama, hanya dua hari. Ketika pengaruh obat tersebut habis, sakit di persendian kembali menghampiri. Beberapa dokter dimintai pertolongan, tapi tidak ada yang berhasil.
Tidak puas dengan itu, keluarga membawa Sardiyoko ke dukun. Orang tua berharap pengobatan alternatif tersebut bisa meringankan beban anaknya.
Seorang dukun yang terkenal sakti yang bertempat tinggal di Gunung Lawu didatangkan. Dengan aksi meyakinkan, sang dukun menempelkan kapas ke beberapa bagian tubuh Sardiyoko. Ajaib, ketika kapas dilepas dari kaki, muncul batu sebesar kepalan tangan. Dari tangan muncul kecoak, dari punggung ada paku. Mantap, dukun mengatakan bahwa Sardiyoko telah disantet.
Keluarga Sardiyoko shock berat. Ibunya menangis meratapi nasib anaknya.
Merasa anaknya itu telah menanam bara api permusuhan dengan banyak orang di Surabaya. Sardiyoko juga berpikir demikian. Apalagi, pekerjaannya sebagai aktivis lingkungan tidak jauh-jauh dari konflik dan polemik.
''Terhitung ada tiga gugatan pengadilan yang melibatkan Walhi. Jelas saja saya khawatir,'' tegasnya.
Namun, Sardiyoko cepat berpikir secara rasional. Dia tidak percaya begitu saja pada aksi sang dukun. Belakangan diketahui bahwa batu, kecoak, dan paku yang keluar dari kapas itu tidak lain dari bagian aksi kecepatan tangan. ''Tapi, orang tua saya tidak percaya pada keyakinan saya,'' jelasnya.
Walau tidak berhasil mengobati, keluarga tidak kapok mendatangkan tiga dukun lagi. Semua seragam mengatakan Sardiyoko disantet. Bahkan pernah Sardiyoko mengajak bertengkar seorang dukun karena ''diagnosis'' sang dukun yang mengungkapkan bahwa penyakit itu dikirimkan teman Sardiyoko sendiri.
Pada satu titik, Sardiyoko merasa kasihan juga melihat perjuangan orang tuanya yang tidak kenal lelah mengundang dukun. Ketika seorang dukun sepuh yang mengaku murid langsung Nyai Roro Kidul didatangkan langsung dari Wonogiri, Sardiyoko merancang peran berpura-pura sembuh.
''Ketika dukun itu selesai menjampi-jampi, saya pura-pura bangkit dan bisa berjalan. Tidak terkira, dukun tersebut girang luar biasa,'' katanya. ''Tapi, setelah itu jangan tanya, hancur semua badan ini karena kepura-puraan itu,'' ungkapnya.
Ketika dukun Wonogiri tersebut pulang, Sardiyoko langsung terbaring lemas hingga pingsan. Lututnya memerah. Bengkaknya hingga setinggi 20 cm. Tapi, tampaknya, aksi dukun-dukunan itu tidak berhenti sampai di situ. Bahkan, kali ini datangnya lebih jauh, dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Diagnosis dukun itu sama saja: Sardiyoko kena santet. Untuk mengobati, hanya ada satu-satunya cara. ''Bakar celana dalam ibu, masukkan ke air, lantas minum,'' ujar Sardiyoko menirukan ucapan sang dukun.
Meski sakit luar biasa menyerang, Sardiyoko tidak menyerah. Dia masih bersemangat mengikuti kegiatan-kegiatan Walhi, walau dari jarak jauh.
Bahkan, dia mengambil berbagai keputusan penting yang berkaitan dengan organisasi tersebut. Semua dia kendalikan melalui telepon.
Setelah wira-wiri ke dokter dan dukun, Sardiyoko direkomendasikan oleh seorang teman untuk berobat ke seorang guru besar FK Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Dari situ, dia tahu bahwa tubuhnya telah diserang psoriasis arthritis. Dokter tersebut lantas memberikan berupa-rupa tablet. Selama sebulan Sardiyoko bisa berjalan. Bengkak di kakinya pun mengecil.
April 2004, Sardiyoko memberanikan pulang ke Surabaya menumpang kereta api. Puluhan teman menjemputnya di Stasiun Gubeng. Mendapat sambutan istimewa, Sardiyoko merasa bungah. Dia merasa tubuhnya sangat sehat dan kuat.
Ketika mendengar Sardiyoko telah kembali ke Surabaya, puluhan teman jaringannya dari berbagai LSM menyambangi pria tersebut. Tamu meluber mulai pukul 12.00 hingga pukul 00.00. Sardiyoko telah melupakan penyakitnya itu. Tapi, di tengah banyaknya tamu, pria tersebut tiba-tiba merasakan sakit luar biasa di bawah perutnya. ''Rasanya seperti ditusuk-tusuk,'' katanya.
Dikira, sakit itu adalah masuk angin biasa. Dia kemudian pamit kepada para tamu untuk beristirahat. Tapi, sakit tersebut tidak hilang.
Sardiyoko berinisiatif mengeroki dirinya sendiri. Namun, rasa sakit semakin menyiksa saja.
Puncak kondisi itu terjadi pukul 02.00. Meski sangat tersiksa, dia tidak mau merepotkan teman-temannya. Rasa itu ditahan hingga pukul 05.00.
''Baru setelah itu saya menelepon keponakan untuk diantar ke rumah sakit,'' ungkapnya.
Alangkah kagetnya Sardiyoko ketika mengetahui bahwa ternyata uretranya tersumbat batu ginjal sebesar ujung kuku. Ginjalnya bengkak. Dokter memperkirakan penyakit itu sudah masuk ke stadium tiga. Tidak ada cara lagi selain melakukan operasi pengangkatan ginjal.
Sardiyoko kembali terhenyak ketika mengetahui bahwa biaya operasi tersebut ternyata sangat mahal, yakni Rp 20 juta. Padahal, saat itu dirinya tidak memiliki uang sepeser pun. ''Saya hanya bisa menangis waktu itu,'' katanya.
Sardiyoko membatalkan operasi. Dia bertekad bertahan semampunya, meski sakit di bawah perutnya sungguh luar biasa. Selama seminggu dia terus-menerus mengonsumsi obat antisakit. Selama seminggu itu pula dirinya pun hanya bisa terbaring lemas.
Untunglah bantuan datang. Ketua Walhi Pusat Longgena Ginting berinisiatif membantu semua pengobatan koleganya itu. Akhirnya, operasi dilakukan tepat Hari Bumi Sedunia, 21 April 2004.
Sardiyoko mengalami masa pemulihan selama dua minggu. Setelah mengalami cobaan beruntun, dia mendapatkan semacam anugerah. Pertama, dia dinobatkan oleh majalah Mozaik sebagai salah seorang pemuda berprestasi Jatim. Kedua, dari even yang sama, dia bertemu wanita yang kelak menjadi
istrinya, Mela Damayanti. ''Dia juga salah seorang penerima penghargaan,'' ucap Sardiyoko. Tidak lama kemudian, mereka berdua melangsungkan pernikahan.
Merasa sehat, Sardiyoko kembali melakukan berupa-rupa aktivitas. Saat tsunami Aceh datang, dia pergi menjadi sukarelawan. Dengan bendera Walhi dia membantu merehabilitasi infrastruktur warga dan membangun semangat keluarga korban.
Namun, ternyata aktivitas tersebut tidak lama. Sekitar enam bulan kemudian penyakit Sardiyoko kambuh. Lututnya tiba-tiba bengkak. Sekujur badannya merah. Nyeri hebat kembali datang. Berat badannya turun drastis dari 72 kilogram menjadi 42 kilogram.
Meski demikian, dia masih melakukan tugasnya sebagai direktur Walhi. Dia aktif mengadvokasi dan melakukan pendampingan pada kelompok warga yang merasa hak-hak lingkungannya dirugikan. ''Saya berobat juga ke dokter.
Selama enam bulan kemudian saya rutin mengonsumsi obat antinyeri,'' tegasnya.
Tapi, ternyata konsumsi obat-obatan itu sangat buruk. Badannya drop.
Bahkan, Sardiyoko tidak bisa makan. Ketika mencoba makan, lambungnya langsung menolak. Puluhan kali dalam sehari dia muntah-muntah. Ternyata, kali ini liver dan ginjalnya rusak parah.
''Terpaksa obat antinyeri saya hentikan. Saya menggantinya dengan terapi juice. Tapi, rasanya aduh... sakit sekali. Bahkan, untuk bernapas saja tidak sanggup rasanya,'' ceritanya. ''Saya hanya terbaring di rumah,'' lanjutnya.
Penderitaan Sardiyoko bertambah karena sepanjang hari dirinya sendirian di rumah. Istrinya, yang bekerja di bagian tiket Stasiun Gubeng, tidak selalu menemani. Karena Sardiyoko tidak bisa apa-apa, anak semata wayangnya yang masih 3 tahun, Gardana Wong Alit, sering mengambilkan pispot ketika ayahnya itu hendak buang air. ''Lagi-lagi saya menangis,'' katanya.
Namun, dia tidak menyerah. Berbagai macam upaya pengobatan dicoba lagi.
Mulai tusuk jarum hingga fisioterapi. Sampai akhirnya pada Oktober 2008, Sardiyoko bertemu Prof dr Budi Warsono SpPD atas saran seorang teman.
Dari situ, jalan kesembuhan Sardiyoko menemui titik terang. Baru empat kali melakukan pertemuan dengan guru besar FK Unair tersebut, Sardiyoko mengalami kemajuan sangat pesat. Apalagi ditambah latihan gerakan layaknya orang stroke, dia merasa bisa melakukan berbagai aktivitas lagi.
''Awalnya saya mengira akan lumpuh total. Tapi, ternyata saya bisa berjalan lagi,'' katanya. Sampai saat ini, Sardiyoko masih terus control ke Prof Budi Warsono. Dia yakin semangat keras dan kemauan besar untuk sembuh bisa melawan berbagai jenis penyakit.
Di tengah wawancara, Gardana dengan manja menghambur ke pelukan ayahnya itu. Tampaknya, dia minta digendong. ''Dia faktor utama yang terus menguatkan saya. Jujur, sangat nelangsa baru bisa menimang dia sekarang sejak lahir,'' ucapnya sambil mengelus rambut bocah berusia 3 tahun itu. (nur/dos)
16/Feb/2009 Pola Haid Tak Teratur, Waspadai Gejala Psoriasis
JAKARTA, MINGGU — Konsultan kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr Azen Salim memperingatkan wanita yang mengalami siklus haid tidak teratur berpeluang terkena psoriasis.
Hal tersebut disampaikannya pada acara edukasi awam setop psoriasis yang diselenggarakan oleh Komunitas Peduli Psoriasis Indonesia (KPPI), Jakarta, Minggu (15/2).
Psoriasis adalah penyakit genetik dan nongenetik, tidak menular, sejenis kelainan kulit yang ditandai dengan proses pergantian kulit yang terlalu cepat dan mengakibatkan kemerahan bersisik.
Penyakit ini belum bisa disembuhkan, tetapi hanya bisa dilakukan perawatan. Menurut Azen, penyakit ini sebenarnya dapat menyerang wanita dan pria. Namun, karena pengaruh hormon esterogen yang terus berubah-ubah jumlahnya pada wanita, menjadi pemicu tersendiri untuk timbulnya psoriasis.
Ia menjelaskan bahwa ada hubungan antara hormon esterogen dan psoriasis. Pada hormon esterogen, menurutnya, ada tiga jenis lagi yang membaginya, yaitu estrone, estradiol, dan estriol. Kedua hormon yang memiliki keterkaitan adalah estrone dan estradiol. "Estrone ini biasanya terdapat pada perempuan obesitas," ujar Azen.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dengan adanya kadar estrone yang tinggi dapat menekan sistem ovulasi sehingga menyebabkan telatnya menstruasi. Selain itu, hormon estradiol yang seharusnya menurun ketika sel telur matang pecah pada keadaan normal, justru akan tetap tinggi pada keadaan tidak normal di mana sel telur matang tidak kunjung pecah.
Menurut Azen, jumlah hormon yang tak stabil ini memicu adanya gangguan imunologis sehingga turut memicu timbulnya psoriasis. Namun, ia tidak bisa memastikan kalau siklus haid tak teratur merupakan gejala psoriasis.
Mengingat penyakit ini juga disebabkan faktor genetis, diperlukan diagnosis yang teliti untuk mengetahui adanya penyakit psoriasis karena sulit membedakan dengan penyakit kulit biasa.
C3-09
Menjadi Vegetarian Kurangi Risiko Psoriasis
JAKARTA, MINGGU — Ahli gizi dr Ekky M Rahardja, MS, SpGk mengatakan bahwa dengan menjadi vegetarian dapat menurunkan kadar penyakit psoriasis.
Menurutnya, psoriasis adalah suatu proses inflamasi yang menyebabkan kelainan pada sistem kekebalan tubuh (autoimunitas) yang kemudian berefek pada kelainan kulit yang ditandai dengan proses pergantian kulit yang terlalu cepat.
Untuk mengendalikan proses inflamasi tersebut, menurutnya, dibutuhkan asupan makanan yang antiinflamasi, seperti sayur-sayuran hijau, buah-buahan, dan ikan segar.
Hal tersebut disampaikannya pada acara edukasi awam stop psoriasis di Jakarta, Minggu (15/2). Lebih lanjut ia menceritakan sebuah kisah tentang para tahanan perang dunia yang berhasil meredam penyakit psoriasis selama mereka di penjara.
"Selama di penjara para tahananan tersebut hanya diberi makan sayuran. Hasilnya selama mereka di penjara, psoriasis mereka tidak pernah kambuh. Namun setelah mereka keluar dari penjara dan bebas makan apa saja justru psoriasis mereka kembali kambuh," papar Ekky.
Ia juga meyakinkan kepada semua peserta yang hadir bahwa menjadi vegetarian akan membuat Anda tetap sehat dan bugar.
Ia menampik semua pendapat yang mengatakan bahwa menjadi vegetarian akan membuat badan kita lemas karena kekurangan protein. Menurutnya, dengan menjadi vegetarian tubuh kita akan tetap sehat karena pada dasarnya kita lebih dekat kepada makhluk herbivora bila melihat anatomi kita.
Namun, ia juga menganjurkan untuk mengombinasikan pola makan kita sekali-kali dengan mengonsumsi daging. Pasalnya kandungan zat besi dan kalsium yang ada pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada kalsium yang ada di sayur.
C3-09
Ancaman Psoriatic Artritis bagi Penderita Psoriasis
JAKARTA, MINGGU — Ahli rheumatologist/persendian dr Cecilia R Padang, PhD, FACR mengatakan bahwa 30 persen dari penderita psoriasis positif terkena psoriatic artritis.
Ia menjelaskan bahwa psoriatic artritis atau radang sendi psoriatik adalah proses kerusakan atau erosi tulang dan gangguan sendi yang terjadi akibat gangguan imunologis serta proses inflamasi yang terjadi terus-menerus.
Hal tersebut diungkapkannya pada acara edukasi awam stop psoriasis yang diadakan oleh komunitas peduli psoriasis Indonesia (KPPI), Jakarta, Minggu (15/2).
Menurutnya, wanita dan pria memiliki risiko yang sama untuk terkena radang sendi ini. Tanda-tanda yang biasanya dapat terlihat dari radang sendi antara lain adalah terjadi pembengkakan di daerah sendi, kemerahan dikelilingi sisik, warna keperakan, terutama di daerah siku, lutut, kulit kepala, dan punggung bagian bawah.
Sering kali tanda-tanda tersebut diikuti rasa gatal dan nyeri yang sangat. "Pada umumnya radang sendi ini menyerang sendi kecil ujung jari tangan dan kaki. Akan terjadi kelainan pada kuku dan timbul bercak-bercak merah pada kuku," jelas Cecilia.
C3-09
16/Feb/2009 Minggu, 15 Februari 2009 | 16:38 WIB
Psoriasis Bukan Penyakit Menular
JAKARTA, MINGGU — Meski tetap harus diwaspadai pengaruh lingkungan, psoriasis bukan penyakit menular. Ahli rheumatologi dr Cecilia R Padang, PhD, FACR menegaskan bahwa penyakit psoriasis bukanlah penyakit kelainan kulit yang menular.
"Penyakit ini lebih disebabkan oleh faktor genetik.Namun kadangkala faktor pemicunya adalah interaksi dengan lingkungan. Namun yang pasti penyakit ini tidak menular," kata Cecilia. Hal tersebut ditegaskannya pada acara edukasi awam "Stop Psoriasis", Jakarta, Minggu (15/02).
Menurutnya, jenis penyakit kelainan kulit ini termasuk unik karena bukan disebabkan oleh faktor infeksi, alergi atau jenis kelainan kulit lain. Namun, yang juga harus diperhatikan bahwa penyakit ini sampai sekarang belum bisa disembuhkan.
Pengobatan yang ada sampai saat ini hanya untuk menekan gejala psoriasis, memperbaiki keadaan kulit, dan mengurangi rasa gatal. "Penderita psoriaris harus terus menjalani perawatan secara intensif karena ini merupakan penyakit kronik," ujarnya.
Psoriasis ditandai gejala lesi kulit berupa plak atau penebalan kulit yang datar menimbul di permukaan kulit, berukuran lebih dari setengah sentimeter. Lesi itu berwarna kemerahan yang ditutupi sisik putih dan transparan. Kelainan kulit itu umumnya mengenai bagian kepala berambut, batas kulit kepala yang berambut, kedua siku dan lutut.
C3-09
http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/02/15/16380117/Psoriasis.Bukan.Penyakit.Menular
|
 |
|
| September 2010 | Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
|
|
| 1 | 2 | 3 | 4 | | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
|
|
|
Anda ingin menjadi Sponsor atau Donatur kami?
hubungi kami disini
|
| Bergabunglah bersama kami di Mailing List Komunitas Peduli Psoriasis yang bernaung dibawah Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia, lebih lanjut tentang aturan keanggotaan baca disini |
| Komentar terakhir Buku Tamu : | saya pernah menderita psoriasis selama 6 bulan dan sangat parah ,dan sekarang saya sudah sembuh,(urip teguh) - Isi Buku Tamu? | |
Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia Phone: +62 21 7033 2425, +62 21 9292 1338, +62 21 9909 1723
Fax : +62 21 750 7739 & +62 21 835 0864 | |



 |
|